HAP3 COM

HAP3 COM

Friday, November 5, 2010

aqidah AHLUSSUNNAH 3

AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH (3)
Imam Mujahid mengatakan bahwa para Ulama mengatakan, ‘langit dan bumi jikalau dibandingkan Kursiy adalah bagaikan mata rantai yang diletakkan di tanah lapang (yang luas).’
Diriwayatkan dari Sahabat Abi Dzar bahwasanya Kursiy dibanding Arasy adalah laksana lingkaran besi (cincin) yang ditaruh di atas hamparan bumi.
16. Di Hari kiamat, para ahli surga dapat melihat Dzat Allah dengan mata telanjang mereka (tidak dengan mata hati) tanpa adanya kesamaran dalam hal itu. Firman Allah dalam al-Qur’an:
وجوه يومئذ ناضره. إلى ربها ناظرة (القيامة: 2-23).
“Wajah-wajah (orang-orang Mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (QS. Al-Qiyaamah; 22-23).
Dalam menanggapi ayat; للذين آمنوا الحسنى وزيادة (يونس:26)
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (QS. Yunus; 26).
Rasulullah SAW bersabda: “al-Husna adalah Surga dan al-Ziyadah adalah melihat pada Dzat Allah Ta’ala.”
Sebuah hadits lain, riwayat Imam Muslim dari Shuhaib ra. Rasulullah membaca ayat; للذين آمنوا الحسنى وزيادة kemudian berkata:
“Tatkala ahlul jannah telah masuk surga dan ahlu nar telah masuk neraka, terkumandanglah sebuah panggilan…….”Hai penduduk surga! Sesungguhnya ada janji Allah untukmu yang hendak dipenuhi-Nya”, merekapun berkata, “Apakah itu!, bukankah telah diberatkan mizan kami?, telah dicerahkan wajah kami, kami-pun telah masuk surga dan selamat dari neraka.” (masihkah ada tambahan lain?; pen). Maka, hijab-pun terbukalah, dan mereka (para penghuni surga) dapat memandang Dzat Allah. Demi Allah tiada yang lebih ni’mat dan menentramkan mereka selain “Nadlar ila Allah”, surga dan segala isinya seakan tak ada apa-apanya.
17. Berkeyakinan bahwa di hari kiamat Allah SWT berfirman langsung pada hamba-Nya, tanpa adanya penerjemah antara Allah dan hamba-Nya.
Imam Bukhori meriwayatkan dari Abi Sa’id ra. bahwa Nabi SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah berfirman pada penduduk surga: “Hai penduduk surga…!, ‘Labbaik ya Allah. Segala kebaikan ada pada-Mu,’ jawab mereka. “Apakah kalian telah ridla?”, ‘Mengapa kami tak ridla ya Allah, sedangkan pemberian yang kau curahkan pada kami belum pernah diberikan pada seorangpun dari makhluk-Mu (belum cukupkah pemberianmu ya Allah?-pen)’, “maukah kalian Ku-beri yang lebih utama dari itu semua?”, ‘Ya Rabbi, adakah yang lebih utama darinya?’ “Aku halalkan Ridla-Ku padamu, maka setelah ini, Aku takkan murka padamu selamanya”.
18. Surga dan Neraka telah diciptakan Allah SWT. Surga disediakan bagi hamba-Nya yang bertaqwa, sedang neraka dipersiapkan untuk orang-orang yang membangkang pada perintah-Nya. Keduanya (surga, neraka) tidak akan rusak dan hancur.
إن المتقين في جنات ونعيم (الطور: 17)
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada dalam surga dan kenikmatan.” (QS. Ath-Thur: 17).
وأن للكافرين عذاب النار (الأنفال: 14)
“Sesungguhnya bagi orang-orang kafir itu ada (lagi) azab neraka.” (QS. Al-Anfaal; 14).
Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Anas bin Malik ra. Rasulullah bersabda; “Demi Allah, Dzat yang jiwaku ada pada tangan-Nya. Andai kalian melihat apa yang aku telah kulihat, pastilah akan sedikit tertawa dan akan selalu menangis.” Apa yang telah Anda lihat wahai Rasulullah?, tanya Sahabat. Aku telah melihat surga dan neraka.”
19. Percaya dengan adanya qodar Allah SWT (baik maupun jelek). Segala yang telah dan akan terjadi adalah atas kehendak dan taqdir Allah SWT. Ilmu Allah meliputi semua itu, tak ada setitik gerakpun yang lepas dari Ilmu, Iradah dan Qudrah Allah ‘Azza wa Jalla. Taqdirnya semua kejadian yang terwujud atas Qudrat Allah, adalah bermuara dari Qadal’-Nya. Taat dan taqwanya seorang hamba pada Allah adalah fadlal dari-Nya. Dengan taufiq-Nya lah mereka mempu menjalankan segala perintah dan menjauhi larangannya. Sehingga dengan segala suka-cita iman meresap dan melembaga dalam kalbu mereka. hatipun jadi damai dan lapang. Maka, itulah hidayah Allah yang dikaruniakan pada siapapun yang dikehendaki-Nya. Dan siapa yang telah mendapat hidayah Allah, tak kan selamanya. Allah jugalah yang merendahkan martabat seseorang sehingga tenggelam dalam kemaksiatan dan kekufuran. Tak mampunya diri untuk menghindarinya, dan terbukanya peluang untuk berbuat dosa adalah suatu tanda terhijabnya orang tersebut dari kasih sayang Allah. Siapa yang mampu menyelamatkannya bila Allah telah mentaqdirkan sebagai manusia yang sesat.
من يهد الله فهو المهتد، ومن يضلل فلن تجد له وليا مرشدا (الكهف : 17 )
“ Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatka-Nya, maka kamu tak akan mendapat seorang pemimpin pun yang dapat memberi prtunjuk kepadanya.” (QS. Al-Kahfi : 17 )
ومن يضلل الله فما له من هاد (الزمر: 23)
“ Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya. “ ( Q.S. Az-Zumar : 23 )
ومن يضلل الله فما له من سبيل (الشورى: 46)
“Dan siapa yang disesatkan Allah, maka tidaklah ada baginya sesuatu jalan pun ( untuk mendapat petunjuk) ”. ( Q.S. As-Syuura : 46 ).
Jadi, tiadalah orang yang mampu berbuat taat maupan maksiat kecuali hal itu telah tercatat rapi dalam ilmu ‘Azaliy Allah. Tak ada segelintir pun yang lepas darinya. Apa yang akan terjadi, terjadilah. Dan itulah taqdir Allah. Siapapun tak berhak menentang maupun menggugatnya. Harus pasrah dan ridla dengan segal yang telah menjadi ketentuan Allah. Dan hanya kepada Allah-lah hidayah berada. Dan tentang kwajiban beriman pada taqdir, Imam Muslim telah meriwayatkan hadits dari Sayyidina Umar bahwa Rasulallah SAW bersabda ( berkenaan tentang pertanyaan Malaikat Jibril tentang iman): “…hendaklah kalian beriman pada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir dan beriman pada Qodar ( segala yang baik dan buruk adalah dari Allah).”
20. Iman adalah diucapkan dengan lisan, diyakini dengan hati dan dilakukan oleh anggota badan. Ia bisa bertambah dengan adanya taat, demikian pula ia akan berkurang dari hakikat kesempurnaan bila bermaksiat. Tidak (maksiat itu) merusak iman sama sekali.
والذين اهتدوا زادهم هدى وآتاهم تقواهم (محمد: 17)
“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketaqwaannya.” (QS. Muhammad; 17).
ويزداد الذين آمنوا إيمانا (المدثر: 31).
“….dan supaya orang yang beriman tambah imannya.” (QS. Al-Mudatstsir: 31).
Suatu ucapan kaimanan (iqrar syahadatain) belumlah sempurna tanpa menjalankan syari’at Islam. Dan perbuatan amal tersebut akan sia-sia bila tak dibarengi dengan niat yang ikhlas. Kesemuanya itu (ucapan, amal dan niat al-qalb) haruslah dengan petunjuk sunnah Rasul. Tanpa berpedoman pada sunnah Rasul, semuanya akan sirna dan tak dianggap. Dalam hal ini, Allah telah berfirman:
قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم. والله غفور رحيم.
“Katakanlah: jika kamu (benar-benar) mencintai allah, ikutlah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Ali Imron;31).
21. Tidaklah seorang dari ahli qiblat (mu’min) itu kafir sebab dosa yang dilakukannya, walaupun itu dosa besar. Dan tidak ada yang merusak iman seseorang kecuali syirik (menyekutukan) pada Allah SWT. Al-Qur’an telah menegaskan:
لئن أشركتم ليبحطن عملك ولتكونن من الخاسرين (الزمر: 65)
“…Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Zumar: 65).

No comments:

Post a Comment