9. Besok di hari Kiamat, bumi dan seluruh isinya ada dalam genggaman Allah dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.
والأرض جميعا قبضته يوم القيامة والسموات مطويات بيمينه (الزمر؛ 67).
“…padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.”
10. Di hari Kiamat Allah akan datang (padahal sebelumnya belum pernah datang) dan malaikat berbaris-baris.
وجاء ربك والملك صفا صفا (الفجر: 22)
“Dan datanglah Tuhanmu, sedang Malaikat berbaris-baris.”
Menanggapi ayat di atas, dalam tafsir al-Khazin IV/378 disebutkan:
اعلم: أن هذه الآية من آيات الصفات التي سكت عنها وعن مثلها عامة السلف وبعض الخلف فلم يتكلموا فيها وأجروها كما جاءت من غير تكيف ولا تشبيه ولا تأويل وقالوا: يلزمنا الإيمان بها وإجراؤها على ظاهرها. وتأولها بعض المتأخرين وغالب المتكلمين فقالوا ثبت بالدليل العقلي أن الحركة على الله محال فلا بد من تأويل الآية ، فقيل في تأويلها: وجاء ربك والملك بالمحاسبة والجزاء، وقيل: جاء أمر ربك وقضاؤه، وقيل: وجاء دلائل آيات ربك فجعل مجيئها مجيئا له تفخيما لتلك الآيات.
11. Dan perlu diingat, bahwa kedatangan Allah adalah untuk menerapkan pengadilan pada mahluk-Nya. Segala amal perbuatan hamba-Nya dituntut pertanggungjawabannya di hari itu . dihisab dan diberi balasan yang setimpal dengan perbuatannya. Dan Allah berhak mengampuni dan menyiksa siapapun yang dikehendaki-Nya.
فيغفر لمن يشاء ويعذب من يشاء والله على كل شيء قدير (البقرة: 284).
“maka Allah mengampuni siapa saja yang dikehendaki-nya, dan menyiksa yang dikehendakinya , dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”( Q.S. Al-Baqarah :284 ).
12. Allah SWT ridlo terhadap orang-orang yang taat dan mencintai orang-orang yang bertaubat.
إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين (البقرة: 222).
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” ( Q.S.Al-baqarah :222 ).
13. Allah SWT murka (سخط) dan marah (غضب) pada orang-orang yang kufurr pada-Nya. Dan amarah Allah tidak ada yang dapat meredamnya.
14. Allah SWT istiwa’ diatas Arsy, jauh diatas langit, tidak di atas bumi. Dan Allah SWT ada di setiap tempat dengan ilmu-Nya .
الرحمن على العرش استوى (طه: 5).
“Tuhan Yang Maha Pemurah , Yang bersemayam di atas Arasy”.(QS. Thaahaa : 5 ).
Pengertian istiwa’ bukanlah menempati Arasy. Sebab, hal yang demikian adalah shifatulkhalq (shifat makhluk), dan Allah sama sekali berbeda dengan makhluk-Nya (mukhaalafah lil-hawaadits). Maka dari itu perlu dicamkan, bahwa istiwa’, dalam segi lughat punya dua arti ;
1. Istiqrar (menempati).
Makna inilah yang mustahil pada Allah SWT. Allah tidaklah menempati Arasy sebagaimana layaknya manusia menempati suatu ruang.
2. ‘Uluw / irtifa’ ( tinggi kedudukannya ).
Arti yang demikian bisa diterapkan pada Allah SWT. Sebab tidak termasuk “ lawaazimul ajsam “, dan bisa dinisbatkan pada hal-hal yang bersifat ma’nawi. Contoh : ارتفع قدر بكر على عمر.
(derajat Bakar diatas derajat Umar).
Selain itu perlu diingat, bahwa menetapkan ke-istiwa’an Allah SWT pada Arasy-Nya bukanlah menetapkan “jihah“ (arah pada Allah SWT). Karena hal itu juga termasuk perkara yang mulazamah / menempel pada mahluk. Maka, sangat mustahil sekali Allah SWT terbatas pada arah. Justru segala arah dan mahluklah yang terbatas dan terliputi oleh ilmu Allah SWT. Allah SWT Dzat yang bersifat Al-Kabir, Al-Adhiim, Aal-Aliyy, Al-Mutaal adalah Raja Segala Raja Yang Kekuasaan dan Keagungan-Nya tidak terbatas apapun juga. Ke-“ Kamal-Muthlaq “-an Dzat Allah dan sifat-sifat-Nya tak ada yang sanggup dan mampu membatasi, menerjemahkan maupan menggambarkan-Nya.
وما قدروا الله حق قدره (الأنعام: 91).
“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya “( Al-An’am :91).
Maka, Arasy dan segala isinya adalah sangat kecil dan remeh sekali dihadapan keagungan dan keMaha-Besaran Allah ‘Azza wa Jalla. Tidak ada apa-apanya dan bahkan fi-hukmil ma’dum (walaupun wujud, namun dianggap kema’dumannya/ ketidakadaannya). Hanya Allah lah yang memiliki “wujud mutlak”. Sehingga, jikalau Arasy dan segala isinya dihadapkan pada Allah SWT adalah sirna dan tak berbekas kemaujudan-nya.
كل شيء هالك إلا وجهه له الحكم وإليه ترجعون (القصص: 88).
Oleh sebab itu, dengan mengimani ke-“istiwa”-an Allah, tidaklah berarti menetapkan kejisiman / jihah pada Allah SWT. Dan, istiwa’-Nya Allah pada Arasy setelah menciptakan langit dan bumi adalah termasuk “Shifatul Fi’li”, yakni Allah betindak pada Arasy dengan tindakan yang bernama “istiwa’ ala al-‘Arsy”.
Allah SWT istiwa’ pada Arasy bukan berarti butuh pada Arsy. Maha Suci Allah, Maha Agung Allah. Sama sekali Allah SWT tidak butuh apapun juga, baik dzat, ‘ardl, zaman maupun tempat. Justru semua yang wujud adalah membutuhkan Allah ‘Azza wa Jalla. Maka, istiwa’nya Allah pada Arasy adalah untuk lebih menampakkan keagungan-keagungan Allah, ke-Maha Besar-an sifat Allah dan kesombongan Allah ‘Azza wa Jalla. Dan Allah SWT tidak dapat ditemu oleh panca indera, namun Allah-lah yang mengetahui segala gerak-gerik hamba-Nya. Allah Dzat yang Lathif dan Khabir. Dialah yang merajai segala raja, membawahi segala yang dipertuan-agungkan. Segala perkara, Allah lah yang mengaturnya. Segala kekuasaan dan segala pujian, Allah lah yang memilikinya. Dan Allah SWT Maha Kuasa atas menciptakan segala sesuatu. Tidak ada yang berhak menentukan suatu perkara kecuali Allah. Tidak ada yang boleh mengatur selain Allah. Kepada-Nya lah naiknya “al-Kalim al-Thoyyib”, sementara amal yang sholeh mendongkraknya. Maka, tidak ada suatu batas yang mengikat Allah. Tidak ada arah yang mempersempit Allah. Dan tidak sesuatupun yang mampu menggambarkan Allah. Maha Suci Allah, Maha Besar Allah. Sungguh sangat Agung dan Takabburnya Allah. Ke-Agung-an dan ke-Maha Besar-an Allah adalah Qadim. Allah tidak butuh disembah dan dipertuan-agungkan makhluk-Nya. Biarpun seluruh penghuni langit dan bumi dan bahkan semua makhluk yang ada taat dan berbakti serta patuh menjalankan segala perintah-perintah Allah, sama sekali itu tidak menambah keagungan sedikitpun. Allah tidak merasa bangga disembah dan dipuja-puja. Demikian pula, seandainya semua makhluk ciptaan-Nya inkar dan membangkang semua perintah, itupun tidak mengurangi sedikitpun dari keagungan dan ketuhanan Allah. Allah SWT tidak susah dan sedih sedikitpun. Tanpa makhluk, Allah sudah Agung dan maha Besar. Allah tidak membutuhkan sesembahan makhluk-Nya, justru merekalah yang memerlukan mengabdi kepada Allah. Segala amal dan perbuatannya nantinya kembali pada diri mereka sendiri.
Disinilah nampak ketakabburan Allah. Allah Dzat yang bersifat “al-Ghaziy” mutlak. Sedikitpun tidak membutuhkan apapun juga.
Disamping wajib mengimani bahwa Dzat Allah tak dapat ditembus oleh akal, begitu juga wajib mengimani bahwa semua sifat Allah SWT (baik sifat Dzaty maupun Fi’li) tidak mungkin bisa digambarkan kaifiyyah dan hakikatnya. Dan diantara sifat-Nya adalah istiwa’-Nya Allah SWT pada Arasy. Maka, tak ada satu makhlukpun yang dapat menjelaskan dan menggambarkan bagaimana dan apa sebenarnya arti dari istiwa’-Nya Allah pada Arasy. Hanya Allah sendirilah yang mengetahui hal itu. Dalam hal ini, makhluk dipaksa harus mengimani tanpa boleh meraba dan mencoba mengungkapnya dengan akal. Memaksakan diri untuk membahas hal itu, sama saja mengantarkan diri pada kehancuran. Karena, hal itu adalah merupakan “sirrul Ilahiyyah” rahasia ketuhanan yang hanya Allah yang berhak mengetahuinya. Lebih tepat dalam hal ini kita mengikuti fatwa Imam Malik:
(الاستواء غير مجهول) أي معلوم وروده في القرآن والسنة (والكيف غير معقول) أي غير مدرك بالعقل (والسؤال عنه بدعة).
15. Sesungguhnya Allah SWT memiliki “Kursiy”, sebagaimana dalam firman-Nya:
وسع كرسيه السموات والأرض. (البقرة: 255).
“Kursiy Allah meliputi langit dan bumi.” (QS. Al-Baqarah: 255).
Menurut Jumhur (mayoritas) Ulama, Kursiy adalah makhluk yang sangat besar. Ia disandarkan pada Allah SWT karena keagungan Allah. Perlu difahami, bahwa kursi disini bukanlah seperti yang digunakan untuk duduk atau bertempat. Maha Suci Allah, Allah tidak butuh tempat maupun arah, sebagaimana keterangan yang telah lalu. Namun, seorang Mu’min tetap wajib mengimani bahwa Allah memiliki Kursiy tanpa membayangkannya yang bukan-bukan. Sebab, hanya Allah-lah yang berhak mengetahui hakikatnya perkara tersebut. Mencoba menguak apa sebenarnya Kursiy Allah, adalah berarti merebut rahasia ketuhanan. Maka, dalam hal ini, cukup mengimaninya saja tanpa berusaha untuk menelusuri dan menta’wilnya. Walaupun ta’wil bisa berguna untuk menolak faham sesat orang Mujassimah maupun Hasyawiyyah, tapi tetap dengan adanya ta’wil seseorang telah menafsiri nash-nash Qur’an dan Hadits dengan rasio. Makanya, para ahli hadits tidak setuju sekali dengan adanya penta’wilan yang macam-macam. Sebab, dalam al-Qur’an sendiri telah disebutkan:
وما يعلم تأويله إلا الله (آل عمران: 7)
“…padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah.” (QS. Ali Imron; 7).
Mengenai Kursiy, dalam hadits disebutkan, bahwa Allah SWT pada hari kiamat meletakkan Kursi-Nya untuk mengadili perkar (fashl al-qadla’).
No comments:
Post a Comment