HAP3 COM

HAP3 COM

Friday, November 5, 2010

aqidah AHLUSSUNNAH

Dinukil dari kitab “Al-Jami’” Karya; Abu Zaid al-Qoiruwaniy
Dengan mengenal Sunnah Rasulullah Shalallah Alaihi Wasallam,
Maka yang beseberangan dengannya adalah bid’ah
Segala puji bagi Allah yang kenikmatan-Nya selalu menyelimuti hamba-Nya. Dzat yang mengutus Nabi Muhammad sebagai pamungkas dari para utusan-Nya. Dengan rohmat-Nya lah Nabi membawa kabar gembira bagi mereka yang taat, dan menyampaikan berita ancaman terhadap orang-orang yang maksiat. Rasul dalam da’wahnya pada Allah, laksana lentera yang menerangi jagad. Maka, Allah pun menganugerah-kan hidayah-Nya pada mereka yang bersedia mengikuti Sunnah Nabi-Nya. Maha suci Allah, Maha Agung Allah.
Nabi Muhammad diutus-Nya pada saat umat sedang berada diambang kehancuran. Jurang neraka telah nampak di depan mata mereka. budaya yang menyimpang dari norma-norma kehidupan telah menjadi pujaan yang didewa-dewakan manusia-manusia jahiliyah. Di saat kerusakan moral yang lebih ngeri dari penyakit kusta inilah, Allah SWT mengutus Nabi-Nya yang membawa “Rahmatan lil ‘Alamin”, bukan hanya mengentaskan umat dari lembah kemiskinan saja, namun lebih jauh dari itu, mengangkat umat dari kesengsaraan abadi yang tanpa batas. Dengan cahaya tahukhid yang ditancapkan Rasulullah SAW, mereka melepaskan budaya sesat yang menyelimuti diri mereka. sehingga, dunia yang semula diwarnai kebejatan dan kemaksiatan, akhirnya penuh dengan kesejukan wahyu ilahi yang mengantarkan umat menuju kehidupan haqiqi. Suatu kehidupan sejati yang penuh dengan ketaqwaan dan kepasrahan total pada Allah Rabbul ‘Izzati. Demi meraih derajat yang tinggi di surga abadi. Sungguh mulia dan agung engkau wahai Rasulullah. Segala yang rumit dalam kehidupan ini kau pecahkan. Semula yang suram dan gelap gulita kau terangkan. Al-Qur’an yang diwahyukan Allah padamu selalu menerangi umatmu sampai qiyamat. Sunnah yang kau bentangkan bagaikan benteng yang kokoh, melindungi umatmu dari tangan-tangan bid’ah yang merayunya. Para sahabatmu yang telah mengucurkan mutiara fatwanya adalah laksana tali yang kuat untuk berpegangan. Terpujilah engkau wahai Rasulullah. Kamu umatmu yang hina dan diselimuti dosa ikut bersaksi, bahwa engkau telah menyampaikan segala amanat yang dibebankan Allah padamu. Demi “haqqullah” engkau bimbing umat menuju pengabdian haqiqi pada Dzat yang menciptakan-nya. Dan sampai akhir hayatmu, engaku tetap terpuji sepanjang masa. Semoga Sholawat, Salam dan barokat Allah senantiasa dicurahkan kepadamu. Dan kami, umat yang dhoif ini, hanyalah dapat menanti syafa’atmu kelak di hari kiamat. Ingatlah kami wahai Rasulullah….
Sabda Rasulullah SAW:
“Aku telah meninggalkan pada kalian dua perkara. Selamanya kalian berpegang padanya, pasti kalian tak akan sesat. Yakni, Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Imam Malik bin Anas).
“Tetapilah olehmu (semua) Sunnahku dan Sunnah Khulafa al-Rasyidin setelahku. Pegangilah dengan kuat laksana menggigit sesuatu dengan gigi geraham. Jauhilah olehmu model-modelnya perkara. Karena setiap yang baru adalah bid’ah. Dan setiap yang bid’ah adalah sesat.”
Terhadap hadits di atas, Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya, meriwayatkannya dengan bentuk sighot:
Dari al-Irbad bin Sariyah berkata; “Suatu hari Rasulullah SAW menasehati kita dengan suatu mauidhoh yang mampu mencucurkan air mata, dan hati menjadi gentar ketakutan. Kami lantas bertanya; “Duhai Rasulullah, sungguh, mauidlohmu ini adalah wasiat orang yang berpamitan, lantas apa yang engkau pesankan pada kami?”, beliaupun bersabda: “Sungguh, aku telah meninggalkanmu dalam ajaran yang terang. Malamnya seperti siangnya. Setelah kepergianku, siapapun yang menyimpang darinya pasti binasa. Dan siapapun diantara kalian yang masih hidup, pasti akan menemukan berbagai perselisihan yang dahsyat. Maka, pegangilah apa yang telah kalian kenal, yakni, Sunnahku dan Sunnah para Khulafa al-Rasyidin al-Mahdiyyin. Dan hendaklah kalian selalu taat, walaupun terpimpin budak Habsyi. Pegang teguhlah semua itu laksana menggigit dengan gigi geraham. Karena seorang Mu’min adalah onta yang tercongok hidungnya. Kamanapun ia dituntun, pasti mengikutinya.”
Selain berwasiat tentang mempertahankan sunnah beliau, Rasul juga memperingatkan umatnya terhadap adanya berbagai fitnah, bentuk-bentuk kesesatan dan bid’ah-bid’ah yang terjadi setelah kepergian Beliau. Dari Abu Hurairah ra. Imam Ibnu Majah meriwayatkan sabda Nabi:
“Pasti, kalian akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu. Sampai, jikalau mereka memasuki liang dhob, kamu tentu memasukinya. Kamipun bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi Nasrani?” Jawab Nabi; “Siapa lagi kalau bukan mereka.”
Dan diantara golongan yang diklaim Nabi adalah Khawarij. Sebab, bid’ah mereka benar-benar menyimpang dan keluar dari agama.
Dalam al-Muwattho’, Imam Malik bin Anas meriwayatkan Hadits dari Abi Sa’id, Rasulullah SAW bersabda:
“Akan keluar padamu suatu kaum yang kamu remehkan sholat kamu dan sholat mereka, puasa kamu beserta puasa mereka, amal-amal kamu beserta amal mereka dan mereka juga membaca al-Qur’an, namun tidak sampai lewat pangkal tenggorokannya. Mereka keluar dari agama sebagaimana melesatnya anak panah karena dilepaskan.”
Golongan tersebut tak lain adalah Khawarij, Qadariyah, Murj’ah, dan Rafidlah. Dari golongan-golongan tersebut pecahlah menjadi beberapa bagian yang jumlahnya mencapai 72. dan ke-72 golongan tersebutlah yang diperingatkan Nabi pada umatnya, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ibnu Majah dari Abu Hurairah ra.;
“Yahudi telah pecah menjadi 71 golongan, dan umatku akan pecah menjadi 73 golongan.”
Diantara permasalahan yang telah menjadi kesepakatan (Ijma’) umat dan merupakan sunnah Rasul yang berlawanan dengan bid’ah adalah:
1. Allah SWT memiliki 99 al-Asma-ul Husna (nama-nama yang agung).
ولله الأسماء الحسنى فادعوه بها (الأعراف: 180)
“Hanya milik Allah Asma-ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma-ul Husna itu.” (QS. Al-A’raf: 180).
2. Allah SWT bersifat dengan sifat-sifat yang luhur.
3. Allah SWT, dengan Ilmu-Nya, meliputi segala sesuatu sebelum terjadinya.
وأن الله قد أحاط بكل شيء علما (الطلاق: 12).
“…dan sesungguhnya Allah, Ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. At-Thalaq; 12).
4. Allah SWT menciptakan segala sesuatu dengan Iradah-Nya.
إنما أمره إذا أراد شيئا أن يقول له كن فيكون (يس: 82).
“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya; “Jadilah..! maka terjadilah ia.” (QS. Yasin; 82).
5. Kalam Allah SWT adalah merupakan sifat Allah. Tidak makhluk dan tidak pula sifatnya makhluk. Dan sesungguhnya Allah berfirman pada Nabi Musa as. dengan Dzat-Nya, dan memperdengarkan kalam tersebut, tidak kalam yang berada pada selain Allah.
وكلم الله موسى تكليما (النساء: 164)
“Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (QS. An-Nisa’: 164).
6. Allah SWT Maha Mendengar dan Melihat.
إنه هو السميع البصير (الإسراء: 1)
“Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’: 1).
7. Allah SWT mempunyai sifat Qabdli dan Basth (mempersempit dan melapangkan).
والله يقبص ويبسط وإليه ترجعون (البقرة: 245)
“Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah; 245).
8. Kedua Yad Allah adalah terbentang (mabsuth).
بل يداه مبسوطتان ينفق كيف يشاء (المائدة؛ 64).
“…tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka. Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.” (QS.al-Maidah; 64).
Perlu dicamkan, bahwa maksud di atas bukanlah sebagaimana tangan makhluk, Maha Suci Allah. Namun, keduanya adalah sifat Allah yang wajib diimani keberadaannya. Dalam hadits disebutkan:
وعن أبي نضرة أن رجلا من أصحاب النبي يقال له أبو عبد الله دخل عليه أصحابه يعودونه وهو يبكي فقالوا له: ما يبكيك ، ألم يقل لك رسول الله خذ من شاربك ثم أقره حتى تلقاني؟، قال: بلى، ولكن سمعت رسول الله يقول: " إن الله عز وجل قبض بيمينه قبضة وأخرى باليد الأخرى ، وقال: هذا لهذه، وهذه لهذه ولا أبالي ولا أدري في أي القبضتين أنا ". رواه أحمد.
Sebagai penjelasan hadits di atas bahwa kedua tangan adalah sebagai bentuk dari sifat “Jalal” dan “Adhomah”-nya Allah SWT.
(باليد الأخرى) لم يقل بيساره أدبا، ولذا ورد في حديث آخر، " وكلتا يديه يمين "، وفي هذا تصوير لجلال الله وعظمته لتعاليه عن الجسم ولوازمه. (مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح؛ جـ:1/ صـ:327).

No comments:

Post a Comment